:welcome:sugeng rawuh:selamat datang:kangei

Halaman

Selasa, 20 November 2012

esai pertamaku :)


“INDONESIA KU SAYANG” atau “INDONESIA KU MALANG”?

Mungkin judul diatas terdengar provokatif bagi telinga kita, tapi fakta di lapangan sepertinya memang demikian.  Bukan ingin menghujat fakta atau apa pun itu namanya, tapi yang pasti kita harus segera menyadari hal ini.
Mari kita sejenak melupakan segenap rutinitas yang membelenggu kita untuk berfikir tentang sebuah negeri dimana kita dilahirkan dan dibesarkan. Ya, sebuah negeri yang bernama Indonesia. Sebuah negeri yang terdiri dari ribuan pulau-pulai yang membentang diatas garis khatulistiwa. Sebuah bangsa yang terkenal dimata dunia dengan keindahan alam  dan keanekaragaman budaya. Sebuah Negara yang terkenal dengan keramahan adat timurnya dan kehalusan perangainya. Saya rasa tiadak berlebihan bila saya menyatakan demikian. Anda pun pasti setuju dengan apa yang saya utarakan tadi. Tapi pertanyaanya, apakah memang demikian adanya keadaan sebuah negeri yang bernama Indonesia ini? Mumpung masih dalam rangka semangat hari pahlawaan yang jatuh pada tanggal 10 november kemarin, saya rasa tidak ada salahnya kalau kita sejenak saja menyediakan waktu untuk bercermin tentang diri kita sebagai bagian dari negeri besar bernama Indonesia ini.
Sudah bukan merupakan rahasia umum lagi kalau Indonesia terkenal dengan kekayaan alamnyanya yang melimpah ruah, selain itu secara demografis,jumlah penduduk yang banyak pun merupakan sebuah modal yang sangat berguna bagi kemajuan bangsa ini. sudah barang tentu dengan keunggulan tadi masyarkat negeri ini dapat hidup dalam kesejahteraan disbanding bangsa lain, namun faktanya tidak demikian. Justru dengan jumlah penduduknya yang berlimpah malah banyak menimbulkan masalah.

Sebagai contohnya adalah tingginya tingkat pengangguran di Indonesia. Berdasarakan data yang dimiliki oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi saat ini(2012) tercatat masih ada 7,24 juta orang di Indonesia yang menganggur, angka ini lebih kecil dibanding angka pengangguran pada 2011 lalu. Namun, penurunan angka ini masih terkendala dengan tidak terserapnya angkatan kerja akibat rendahnya kualitas angkatan kerja dan minimnya pendidikan calon tenaga kerja. 
Berdasarkan data yang saya sadur dari REPUBLIKA, komposisi angkatan kerja Indonesia sebagian besar berpendidikan SD ke bawah yaitu sebanyak 47,87 persen, SMP sebanyak 18,28 persen dan  pendidikan lebih tinggi termasuk DI, II, III dan Perguruan Tinggi hanya sekitar 9,27 persen. 
Hal ini tentu saja berdampak pada daya saing dan kompetensi dalam memperoleh kesempatan kerja baik di dalam maupun di luar negeri . selain karena latar belakang pendidikannya, tingginya tingkat pengangguran di Indonesia juga disebabkan oleh rendahnya kualitas pendidikan dan tenaga kerja itu sendiri. Menurut badan pusat statistik (BPS) sarjana menganggur pada agustus 2009 meningkat 0,49% dari agustus tahun lalu, sedangkan pada tahun 2010 meningkat menjadi 11,92%, dan pada tahun 2011 BPS hanya menyebutkan angka 8.12 juta untuk pengangguran terbuka, kemungkinan sarjana menganggur di tahun 2011 mengalami peningkatan yang signifikan.
Dari tingginya angka pengangguran ini, kita dapat membayangkan seberapa tingginya jumlah penduduk miskin di negara ini. Menurut Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Chairul Tanjung, penduduk miskin di Indonesia masih tinggi yaitu mencapai 30 juta orang. Jumlah ini lebih banyak dari total penduduk Australia maupun Malaysia. Hal terseabut dikemukakannya setelah Badan Pusat Statistik(BPS) merilis data tentang jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2012 yang mencapai 29,13 juta orang (11,96 persen), walaupun angka itu berkurang 0,89 juta orang (0,53 persen) dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2011 yang sebesar 30,02 juta orang (12,49 persen).
Sungguh sebuah hal yang sangat kontras dengan kondisi bangsa ini yang terkenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah ruah. Karena saking melimpahnya hingga para musisi pun menyebut Indonesia ini “tanah surga”. Sayangnya,”kekayaan” yang dianugerahkan itu tidak bisa kita kelola dengan baik sehingga tak dapat kita manfaatkan hasilnya untuk kemakmuran rakyat negara ini. Yang lebih menyesakkan adalah ketika justru kekayaan-kekayaan yang kita miliki tak dapat kita nikmati sendiri. Ya, justru malah bukan bangsa ini yang dapat mengecap kekayaan alam yang terkandung di dlamnya. Hal ini ditandai dengan maraknya eksploitasi sumber daya alam Negara ini yang “dikeruk” dan dibawa pergi habis-habisan oleh pihak asing dengan berkedok “investasi asing”. Sungguh suatu penghianatan besar kepada rakyat. Bahkan, pada daftar yang diterbitkan United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) untuk pertama kalinya, Indonesia termasuk 20 besar negara-negara penerima aliran masuk (inflow) investasi asing langsung (foreign direct investment) dengan nilai investasi asing langsung lebih dar US$ 13 miliar.
seakan belum berhenti luka yang dialami oleh ibu pertiwi ini, generasi penerus bangsa pun seolah ikut turut serta menambah panjang daftar kebrobokan negara ini. Berdasarkan data terbaru, Indonesia peringkat ke-1 pengunduh dan pengunggah situs porno. Selain itu berdasarkan riset Universitas Indonesia menunjukkan bahwa sebanyak 650 ribu perempuan golongan ABG sudah hilang keperawanannya. Dengan kata lain, mereka telah melakukan seks di luar nikah. Sedangkan berdasarkan data yang dihimpun oleh  Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 50% dari total ABG yang berusia 15-17 pernah melakukan seks bebas, sebagaimana yang disampaikan oleh  Bapak Dr Sugiri Syarief,Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, dalam acara “Workshop Generasi Berencana dan Berkarakter” , di Jakarta.
Dan sepertinya belum lengkap kalau kita tidak membahas tentang permasalahan paling kompleks yang diderita oleh bangsa ini yaitu “korupsi”. Seakan  tidak puas kita dijejali oleh berbagai berita tentang korupsi selalu memenuhi layar kaca negeri ini. Dan yang lebih luar biasa adalah kasus korupsi yang telah meraja lela dari atas sampai pada tingkat yang paling bawah sekalipun. Bahkan,menurut data Jakarta Globe , jumlah uang yang berhasil dilipat oleh para koruptor mencapai 238,6 juta USD (Rp2.13Trilion).
Memang sangat miris melihat data-data diatas, tapi demikian faktanya. bahkan mungkin data-data diatas hanyalah sebuah “puncak gunung es” yang kasus sebenarnya yang terjadi dilapangan berjumlah lebih besar. Bukan hal yang mudah memang untuk merubah itu semua. Tapi setidaknya, masing-masing dari kita memiliki sebuah kepedulian kepada bangsa tempat dimana kita dilahirkan ini. Entah sekecil apa pun peran kita, itu bukanlah hal yang penting untuk dipermaslahkan, yang terpenting adalah kita melakukan hal terbaik yang kita bisa lakukan sesuai dengan peran kita masing-masing, agar cita-cita kita dan para pendiri bangsa ini dapat terwujud. Mewujudkan Indonesia yang sesuai dengan apa yang di cita-citakan pancasila dan diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar