“INDONESIA KU SAYANG” atau “INDONESIA KU MALANG”?
Mungkin
judul diatas terdengar provokatif bagi telinga kita, tapi fakta di lapangan sepertinya memang demikian.
Bukan ingin menghujat fakta atau apa pun itu namanya, tapi yang pasti
kita harus segera menyadari hal ini.
Mari
kita sejenak melupakan segenap rutinitas yang membelenggu kita untuk berfikir
tentang sebuah negeri dimana kita dilahirkan dan dibesarkan. Ya, sebuah negeri
yang bernama Indonesia. Sebuah negeri yang terdiri dari ribuan pulau-pulai yang
membentang diatas garis khatulistiwa. Sebuah bangsa yang terkenal dimata dunia
dengan keindahan alam dan keanekaragaman
budaya. Sebuah Negara yang terkenal dengan keramahan adat timurnya dan
kehalusan perangainya. Saya rasa tiadak berlebihan bila saya menyatakan
demikian. Anda pun pasti setuju dengan apa yang saya utarakan tadi. Tapi
pertanyaanya, apakah memang demikian adanya keadaan sebuah negeri yang bernama
Indonesia ini? Mumpung masih dalam rangka semangat hari pahlawaan yang jatuh
pada tanggal 10 november kemarin, saya rasa tidak ada salahnya kalau kita
sejenak saja menyediakan waktu untuk bercermin tentang diri kita sebagai bagian
dari negeri besar bernama Indonesia ini.
Sudah bukan
merupakan rahasia umum lagi kalau Indonesia terkenal dengan kekayaan alamnyanya
yang melimpah ruah, selain itu secara demografis,jumlah penduduk yang banyak
pun merupakan sebuah modal yang sangat berguna bagi kemajuan bangsa ini. sudah
barang tentu dengan keunggulan tadi masyarkat negeri ini dapat hidup dalam
kesejahteraan disbanding bangsa lain, namun faktanya tidak demikian. Justru
dengan jumlah penduduknya yang berlimpah malah banyak menimbulkan masalah.
Sebagai contohnya
adalah tingginya tingkat pengangguran di Indonesia. Berdasarakan data yang
dimiliki oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi saat ini(2012) tercatat
masih ada 7,24 juta orang di Indonesia yang menganggur, angka ini lebih
kecil dibanding angka pengangguran pada 2011 lalu. Namun, penurunan angka ini
masih terkendala dengan tidak terserapnya angkatan kerja akibat rendahnya
kualitas angkatan kerja dan minimnya pendidikan calon tenaga kerja.
Berdasarkan
data yang saya sadur dari REPUBLIKA, komposisi angkatan kerja Indonesia
sebagian besar berpendidikan SD ke bawah yaitu sebanyak 47,87 persen, SMP
sebanyak 18,28 persen dan pendidikan lebih tinggi termasuk DI, II, III
dan Perguruan Tinggi hanya sekitar 9,27 persen.
Hal
ini tentu saja berdampak pada daya saing dan kompetensi dalam memperoleh
kesempatan kerja baik di dalam maupun di luar negeri . selain karena latar
belakang pendidikannya, tingginya tingkat pengangguran di Indonesia juga
disebabkan oleh rendahnya kualitas pendidikan dan tenaga kerja itu sendiri.
Menurut badan pusat statistik (BPS) sarjana menganggur pada agustus 2009
meningkat 0,49% dari agustus tahun lalu, sedangkan pada tahun 2010 meningkat
menjadi 11,92%, dan pada tahun 2011 BPS hanya menyebutkan angka 8.12 juta untuk
pengangguran terbuka, kemungkinan sarjana menganggur di tahun 2011 mengalami
peningkatan yang signifikan.
Dari
tingginya angka pengangguran ini, kita dapat membayangkan seberapa tingginya
jumlah penduduk miskin di negara ini. Menurut Ketua Komite Ekonomi Nasional
(KEN) Chairul Tanjung, penduduk miskin di Indonesia masih tinggi yaitu mencapai
30 juta orang. Jumlah ini lebih banyak dari total penduduk Australia maupun
Malaysia. Hal terseabut dikemukakannya setelah Badan Pusat Statistik(BPS)
merilis data tentang jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2012 yang
mencapai 29,13 juta orang (11,96 persen), walaupun angka itu berkurang 0,89
juta orang (0,53 persen) dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2011
yang sebesar 30,02 juta orang (12,49 persen).
Sungguh
sebuah hal yang sangat kontras dengan kondisi bangsa ini yang terkenal dengan
kekayaan alamnya yang melimpah ruah. Karena saking melimpahnya hingga para
musisi pun menyebut Indonesia ini “tanah surga”. Sayangnya,”kekayaan” yang
dianugerahkan itu tidak bisa kita kelola dengan baik sehingga tak dapat kita
manfaatkan hasilnya untuk kemakmuran rakyat negara ini. Yang lebih menyesakkan
adalah ketika justru kekayaan-kekayaan yang kita miliki tak dapat kita nikmati
sendiri. Ya, justru malah bukan bangsa ini yang dapat mengecap kekayaan alam
yang terkandung di dlamnya. Hal ini ditandai dengan maraknya eksploitasi sumber
daya alam Negara ini yang “dikeruk” dan dibawa pergi habis-habisan oleh pihak
asing dengan berkedok “investasi asing”. Sungguh suatu penghianatan besar
kepada rakyat. Bahkan, pada daftar yang diterbitkan United Nations Conference
on Trade and Development (UNCTAD) untuk pertama kalinya, Indonesia termasuk 20
besar negara-negara penerima aliran masuk (inflow) investasi asing langsung
(foreign direct investment) dengan nilai investasi asing langsung lebih dar US$
13 miliar.
seakan
belum berhenti luka yang dialami oleh ibu pertiwi ini, generasi penerus bangsa
pun seolah ikut turut serta menambah panjang daftar kebrobokan negara ini.
Berdasarkan data terbaru, Indonesia
peringkat ke-1 pengunduh dan pengunggah situs porno. Selain itu berdasarkan
riset Universitas Indonesia menunjukkan bahwa sebanyak 650 ribu perempuan
golongan ABG sudah hilang keperawanannya. Dengan kata lain, mereka telah
melakukan seks di luar nikah. Sedangkan berdasarkan data yang dihimpun
oleh Badan Kependudukan dan Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) 50% dari total ABG yang berusia 15-17 pernah
melakukan seks bebas, sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Dr Sugiri Syarief,Kepala Badan Kependudukan
dan Keluarga Berencana Nasional, dalam acara “Workshop Generasi Berencana dan
Berkarakter” , di Jakarta.
Dan sepertinya belum
lengkap kalau kita tidak membahas tentang permasalahan paling kompleks yang
diderita oleh bangsa ini yaitu “korupsi”. Seakan tidak puas kita dijejali oleh berbagai berita
tentang korupsi selalu memenuhi layar kaca negeri ini. Dan yang lebih luar
biasa adalah kasus korupsi yang telah meraja lela dari atas sampai pada tingkat
yang paling bawah sekalipun. Bahkan,menurut data Jakarta Globe , jumlah
uang yang berhasil dilipat oleh para koruptor mencapai 238,6
juta USD (Rp2.13Trilion).
Memang sangat miris melihat data-data diatas, tapi demikian faktanya.
bahkan mungkin data-data diatas hanyalah sebuah “puncak gunung es” yang kasus
sebenarnya yang terjadi dilapangan berjumlah lebih besar. Bukan hal yang mudah
memang untuk merubah itu semua. Tapi setidaknya, masing-masing dari kita
memiliki sebuah kepedulian kepada bangsa tempat dimana kita dilahirkan ini.
Entah sekecil apa pun peran kita, itu bukanlah hal yang penting untuk
dipermaslahkan, yang terpenting adalah kita melakukan hal terbaik yang kita
bisa lakukan sesuai dengan peran kita masing-masing, agar cita-cita kita dan
para pendiri bangsa ini dapat terwujud. Mewujudkan Indonesia yang sesuai dengan
apa yang di cita-citakan pancasila dan diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar